Cari Blog

Memuat...

Sabtu, 14 Januari 2012

MAKALAH PENGANTAR ILMU SOSIAL :stratifikasi & proses sosial

KATA PENGANTAR
          Kalimat pertama yang akan saya sampaikan adalah rasa syukur yang luar biasa kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridhoNya lah saya dapat menyelesaikan makalah sederhana saya ini tepat pada waktunya.
            Makalah ini saya susun karena merupakan salah satu tugas yang diberikan pada mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial pada Semester Ganjil. Makalah ini akan membahas Stratifikasi dan Proses Proses Sosial yang terjadi di masyarakat.
            Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam proses perkuliahan kuhususnya bagi mahasiswa mahasiswi program studi Pendidikan Ekonomi akuntansi di STKIP PGRI Sukabumi ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah yang sederhana ini.Karena pada dasarnya saya hanya manusia biasa yang masih dalam tahap belajar dan masih harus banyak melakukan perbaikan.
            Saya mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang membantu saya dalam menyusun makalah ini dan bagi semua pembaca makalah ini.


                                                                                    Penyusun,

                                                                                    Isni Mugi Satyaning Rahayu



STRATIFIKASI SOSIAL DAN PROSES PROSES SOSIAL

1.    Pendahuluan

Setiap manusia dihadapan Tuhan adalah sama. Pernyataan tersebut merupakan hal yang secara universal diakui oleh manusia.Namun dalammasyarakat, saya, Anda dan orang di sekitar kita, dipandang berbeda karena status yang dimiliki.Sebagai contoh kita dapat perhatikan keadaan dalam unit terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga.Pada suatu keluarga inti umumnya terdapat orang tua dan anak-anak, orang tua tentunya memilikiposisi lebih tinggi dari anak-anak.Posisi ini di dapatkan karena orang tuamemiliki status sebagai pembentuk keluarga, pemimpin dalam menjalankan kehidupan keluarga. Perbedaan posisi individu atau kelompok ini yang akan kita pelajari dalam makalah ini. Perbedaan tersebut dalam sosiologi kita kenal dengan konsep stratifikasi sosial.Pembahasan materi stratifikasi sosial dalam makalah ini akan kita mulai dari pemahaman mengenai konsep stratifikasi sosial. Pembahasan dimensi kita mulai dari pemahaman mengenai dimensi stratifikasi yang meliputi prestise,privilege , dan power .Kemudian pembahasan dilanjutkan mengenai konsep kelas sosial, sebagai suatu konsep yang sangat penting untuk mempelajari stratifikasi sosial.

2.    Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial (Pelapisan Sosial) adalah penggolongan untuk pembedaan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu kedalam lapisan-lapisan hirarkhis menurut dimensi kekuasaan, previlese dan prestise.
Penggolongan untuk pembedaan artinya: setiap induvidu menggolongkan dirinya sebagai orang yang termasuk dalam suatu lapisan tertentu (menganggap dirinya lebih rendah atau lebih tinggi daripada orang lain) untuk digolongkan kedalam lapisan tertentu
Pelapisansosial merupakan proses menempatkan diri dalam suatu lapisan (subyektif) untuk penempatan orang kedalam lapisan tertentu
Contoh Subyektif
a.       Sekelompok orang karena faktor tertentu (biasanya status) tidak mau disamakan dengan sekelompok yang lain.
b.      Sekelompok orang yang lebih kayakadang merasa risih bergaul dengan yangmiskin

Contoh Obyektif
Ø  Sekolompok orang merasa minder ( faktor tertentu) apabila bergaul dengan orang kelasnya lebih diatasnya.
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Stratifikasi sosial menurut max weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
3.    Penentuan Strata
·        Kekuasaan

Kesempatan yang ada pada seseorangdidalam melaksanakan kemauannya dalamsuatu tindakan

·        Previlese

Hak istimewa, Hak mendahului, Hak untukmemperoleh perlakuan khusus.

·        Prestise

Kehormatan, yaitu mendapat pelayanan dan pengawalan ekstra dalam suatu pertemuan.


4.    Dasar Dasar Pembentukan Strata Sosial

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

a.      Ukuran kekayaan


Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.

b.      Ukuran kekuasaan dan wewenang


Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

c.      Ukuran kehormatan


Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.


d.      Ukuran ilmu pengetahuan


Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor.Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
5.    Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
1.      Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa.Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru.
2.      Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.
Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya.Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi.
6.    Pengertian Proses Sosial
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dan seterusnya.
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial(yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompo tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
7.    Bentuk Bentuk Proses Sosial
a.     Proses sosial yang asosiatif
Proses sosial yang asosiatif adalah proses sosial yang berjalan positif dan menghasilkan keteraturan dan integrasi sosial. Bentuk-bentuk proses sosial asosiatif, yaitu kerjasama, akmodasi, asimilasi, dan alkulturasi sosial. Proses sosial yang asosiatif ini mendorong terbentuknya pranata, lembaga atau organisasi sosial.



1.      Kerjasama sosial

            Kerja sama sosial (cooperation) adalah usaha bersama antara dua individu atau dua kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Contohnya, kerjasama dalam mendirikan rumah, organisasi, perusahaan, Negara dan sebagainya.Kerjasama inilah yang mendorong terwujudnya keteraturan dan integrasi social. Dengan kerjasama, kegiatan masyarakat akan mudah dilaksanakan daripada dikerjakan sendiri-sendiri. Kesejahteraan social juga akan mudah dicapai jika diusahakan dengan prinsip kerjasama sosial. Bentuk-bentuk kerjasama sosial, antara lain sebagai berikut :
a.       Kerjasama sepontan (spontanneus cooperation), yaitu kerjasama secara tiba-tiba tanpa adanya suatu perintah atau tekanan dari pihak manapun.
b.      Kerjasama langsung (directed cooperation), yaitu kerjasama yang terbentuk karena adanya perintah dari atasan.
c.       Kerjasama kontrak (contractual cooperation), yaitu kerjasama atas dasar suatu kontrak atau perjanjian tertentu
d.      Kerjasama tradisional (tradition cooperation), yaitu kerjasama sosial yang terbentuk karena bersifat tradisi atau adat kebiasaan. Misalnya, kerjasama dalam bentuk gotong royong, tolong menolong, atau solidaritas sosial.
Berdasarkan pelaksanaannya, bentuk-bentuk kerjasama social, antara lain :
a.       Kerukunan, yaitu kerjasama dalam bentuk tolong-menolong, gotong-royong, dan kekeluargaan.
b.      Bargaining, yaitu kerjasama berdasarkan suatu perjanjian atau kontrak.
c.       Kooptasi, yaitu kerjasama dalam pelaksanaan politik.
d.      Koalisi, yaitu penyatuan kedua kelompok atau lebih yang memiliki tujuan sama.
e.       Joint venture, yaitu kerjasama dalam pengumpulan modal usaha atau kerjasama dalam mengerjakan proyek tertentu.

2.     Akomodasi sosial

Akomodasi sosial (accommodation) adalah proses meredakan suatu pertentangan untuk mencapai keadaan yang stabil. Apabila dua orang atau dua kelompok saling bersitegang, maka akan terjadi proses akomodasi. Pada saat akomodasi berlangsung, kedua belah pihak berada dalam keadaan tidak berhubungan social.Masing-masing pihak mempunyai kesempatan untuk berdamai atau meningkatkan konflik.Contohnya : suami-istri pisah ranjang, atau putusnya hubungan persahabatan antara dua remaja.
Bentuk-bentuka akomodasi sosial, antara lain sebagai berikut :
a)      Pemaksaan (coercion), yaitu usaha meredakan pertentangan dengan paksaan. Pemaksaan ini biasanya dilakukan oleh pihak yang kuat (mayoritas) terhadap pihak yang lemah (minoritas).
b)      Kompromi (compromise), yaitu pengurangan tuntutan dari kedua pihak untuk mencapai suatu penyelesaian. Kompromi dapat tercapai karena kedua pihak tidak mau melanjutkan pertikaiannya.
c)      Arbitrasi (arbritation), yaitu penyelesaian pertentangan atau konflik oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua pihak yang bertikai.
d)     Mediasi (mediation), yaitu penggunaan pihak ketiga sebagai mediator yang tidak memihak dalam menyelesaikan suatu pertikaian. Pihak ketiga sebagai penasehat atau mediasi tidak turut mengambil keputusan.
e)      Konsiliasi (conciliation), yaitu usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai penyelesaian masalah.
f)       Toleransi (tolerance), yaitu menghadirkan diri dari perselisihan atau bersikap saling menghargai untuk meredakan pertengkaran
g)      Stalemate, yaitu usaha kedua pihak untuk menghentikan sendiri pertikaian, karena masing-masing memiliki kekuatan yang seimbang.
h)      Ajudikasi (adjudication), yaitu upaya penyelesaian perkara melalui pengadilan.
i)        Segresi (segretion), yaitu upaya penyelesaian sengketa dengan cara masing-masing pihak saling menghidari konflik agar tidak berkelanjutan.
j)        Eliminasi (elimination), yaitu upaya penyelesaian sengketa dengan cara salah satu pihak bersedia mengalah, meminta maaf atau mengundurkan diridaripersidangan.
k)      Keputusan mayoritas (majority deciation), yaitu suatu keputusan yang diambil dengan suara terbanyak
l)        Gencatan senjata (cease fire), yaitu upaya penagguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu dalam mencapai penyelesaian melalui perundingan.

3.     Asimilasi sosial
Asimilasi (assimilation) adalah proses penyatuan dua pihak atau dua kelompok yang berbeda kebudayaan dan menghasilkan kelompok yang baru. Contohnya, terbentuknya kelompok masyarakat indo pada zaman colonial hindia-belanda. Contoh lain, terbentuknya agama hindu di india yang merupakan hasil perpaduan antara kepercayaan suku bangsa dravida (penduduk asli) dengan suku bangsa arya (penduduk pendatang).
4.     Akulturasi Sosial
Alkulturasi (acculturation) adalah peleburan dua unsur kebudayaan yang berbeda tanpa menghilangkan cirri khas kebudayaan masing-masing.Sebagai contoh, bersatunya kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan hindu-budha, yang tampak dari bentuk bangunan candi, arca, prasasti, cerita wayang golek dan sebagainya.

b.    Proses Sosial yang disosiatif
Proses sosial yang disosiatif (processes of dissociation) adalah proses sosial yang mengarahkan pada perpecahan dan merengangkan rasa solidaritas kelompok. Bentuk-bentuk proses sosial dissosiatif, yaitu kompetisi, konflik, dan kontraversi sosial. Proses sosial yang disosiatif dapat mendorong terjadinya konflik sosial dan disitegrasi sosial.
1.     Persaingan ( Competition )
Persaingan atau kompetisi adalah proses sosial yang ditandai oleh persaingan untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya, persaingan untuk mencapai pekerjaan atau jabatan tertentu, atau persaingan siswa di sekolah untuk mencapai peringkat pertama di kelas.Wujud atau bentuk persaingan meliputi:
a)      Persaingan Ekonomi
Contoh : persaingan yang terjadi antar pedagang di Pasar Sega Mas Persaingan antara Telkomsel, Axis, XL dan IM3 dalam menggaet konsumen dan sebagainya.
b)      Persaingan Budaya
Contoh : Malaysia mengklaim tari Pendet, Reog Ponorogo, Lagu Gelang si gelang dan batik sebagai hasil karya seni bangsanya, Persaingan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Kereta Api antara China Jepang dan Jerman dan sebagainya
c)      Persaingan Politik
Contoh: Persaingan antar calon Bupati dalam PILKADA
Persaingan antar Partai dalam perolehan suara  dan sebagainya.

d)     Persaingan Ras
Contoh : Persaingan antar etnis tionghoa dan suku Jawa
Persaingan antara suku Batak dengan suku Sunda/Madura.Dan sebagainya.
2.     Konflik sosial
Konflik sosial (social conflict) adalah proses sosial yang diwarnai oleh terjadinya pertentangan karena perbedaan pandangan dan kepentingan. Misdalnya : konflik sosial antara penduduk asli dengan penduduk pendatang., konflik antara buruh dengan majikan, dan konflik antara atasan dan bawahan.
Jenis-jenis sosial antara lain sebagai berikut :
a)      Konflik sosial antar individu

      Konflik sosial antar individu adalah pertentangan yang terjadi antar perorangan. Misalnya: perselisihan antara adik dan kakak, suami dengan istrinya, dan pertengkaran antara dua orang teman sekolah.
b)      Konflik sosial antar kelompok

      Konflik sosial antar kelompok adalah pertentangan yang terjadi antara kelompok dengan kelompok.Misalnya : pertentangan antara dua kelompok siswa yang berbeda sekolah, pertentangan antara dua kelompok pemuda yang beda kampung, dan pertentangan antara dua kelompok pendukung klub sepakbola.
c)       Konflik sosial antar ras

      Konflik sosial antar ras adalah pertentangan yang terjadi antara dua ras yang berbeda.Misalnya : pertentangan antara ras kulit putih dengan kulit hitam di Amerika Serikat dan Afrika Selatan akibat penerapan politik rasial atau aparthied.
d)      Konflik status sosial

      Konflik status sosial adalah pertentangan yang terjadi karena perbedaan kedudukan sosial.Misalnya : pertentangan anara buruh dan majikan, pertentangan antara atasan dengan bawahan, pertentangan antara kelas atas dan bawah.
e)      Konflik antar budaya

      Konflik antar budaya adalah pertentangan yang terjadi akibat perbedaan kebudayaan.Misalnya, pertentangan antara nilai-nilai budaya barat dengan nilkai-nilai budaya Timur.
3.      Kontravensi sosial
Kontravensi sosial  adalah proses sosial yang ditandai oleh adanya sikap dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, tetapi tidak menimbulkan konflik sosial.
Bentuk-bentuk kontraversi sosial :
a.       Kontraversi umum, seperti menghasut, menghalang-halangi, memprotes dan sebagainya
b.      Kontraversi sederhana, seperti memaki-maki di telepon, mencerca atau memfitnah
c.       Kontraversi intensif, seperti menyebar desas-desus atau mengecewakan orang lain.
d.      Kontraversi rahasia, seperti membocorkan rahasia orang lain, berkhianat atau ingkar janji
e.       Kontraversi taktis, seperti mengganggu atau menghalang-halangi pihak lain atau kelompok lain termasuk melakukan intimidasi dan provokasi.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar